Drone di Negara Terbesar Amerika Latin
Brazil adalah negara terbesar di Amerika Latin dengan industri drone yang berkembang pesat, terutama untuk agriculture (soybean, coffee plantations) dan infrastructure inspection. Regulasi drone Brazil diatur oleh dua badan: ANAC (civil aviation) dan DECEA (military airspace control).
Dua Badan, Dua Sistem
Ini yang bikin Brazil unik (dan kadang membingungkan):
- ANAC (Agência Nacional de Aviação Civil): Mengatur sertifikasi drone, lisensi pilot, dan safety standards. Mirip FAA atau CASR.
- DECEA (Departamento de Controle do Espaço Aéreo): Mengatur airspace authorization. Ini military authority yang kontrol semua airspace Brazil.
Praktisnya: Anda butuh approval dari KEDUA badan untuk terbang legal. ANAC untuk "boleh terbang drone ini", DECEA untuk "boleh terbang di lokasi ini".
Kategori Drone Brazil (ANAC)
ANAC membagi drone berdasarkan berat:
- Class 1 (>150kg): Butuh full aircraft certification. Hampir tidak ada di pasar sipil.
- Class 2 (25kg-150kg): Butuh experimental certificate. Untuk operasi komersial besar.
- Class 3 (<25kg): Ini yang paling umum. Dibagi lagi jadi:
- Basic: Operasi hobi, tidak perlu lisensi pilot.
- Advanced: Operasi komersial, butuh lisensi pilot.
Aturan untuk Hobi (Class 3 Basic)
Relatif liberal:
- Registrasi: Drone >250g wajib registrasi di ANAC (online, gratis). Sama seperti SIDOPI Indonesia.
- Lisensi Pilot: TIDAK PERLU untuk hobi.
- Altitude: Max 120m AGL, sama dengan standar global.
- VLOS: Wajib Visual Line of Sight.
- Daylight Only: Terbang malam butuh waiver.
SISANT: Sistem Authorization yang Kompleks
Ini yang bikin Brazil tricky. SISANT (Sistema de Solicitação de Acesso ao Espaço Aéreo) adalah portal online DECEA untuk request airspace authorization.
Cara Kerja:
- Daftar akun di SISANT (butuh CPF - ID nasional Brazil).
- Submit flight plan (lokasi, waktu, altitude, purpose).
- Tunggu approval (bisa 15 menit - 7 hari tergantung lokasi).
- Jika approved, dapat NOTAM (Notice to Airmen) code.
Kapan Butuh SISANT?
- Terbang di controlled airspace (dekat bandara).
- Terbang di atas 120m (butuh waiver).
- Terbang di area urban besar (São Paulo, Rio, Brasília).
Aturan Komersial (Class 3 Advanced)
Untuk operasi komersial:
- Pilot License: Wajib punya Remote Pilot Certificate dari ANAC. Ujian teori (60 soal) + praktik. Biaya ~R$2,000 (Rp 5 juta).
- Insurance: Wajib third-party liability insurance. Minimum coverage R$100,000 (~Rp 250 juta).
- Operational Manual: Harus punya manual operasi yang approved ANAC (seperti SOP perusahaan).
No Fly Zones Brazil
Brazil punya No Fly Zone yang extensive:
- Military Bases: Brazil punya banyak instalasi militer. Radius 5-10km dari base adalah restricted.
- Prisons: Dilarang terbang dekat penjara (karena banyak kasus drone kirim narkoba/HP ke tahanan).
- National Parks: Brazil punya Amazon rainforest. Banyak area konservasi yang strict no-drone.
- Beaches (Seasonal): Beberapa beach tourist area ban drone saat high season untuk privasi.
Sanksi dan Enforcement
Brazil cukup serius dengan enforcement:
- Terbang tanpa registrasi: Denda R$10,000 (Rp 25 juta).
- Terbang tanpa SISANT approval: Denda R$20,000 (Rp 50 juta) + confiscation drone.
- Membahayakan pesawat: Penjara 2-5 tahun.
Bandingkan dengan sanksi Indonesia.
Pelajaran untuk Indonesia
- Dual Authority Complexity: Brazil menunjukkan bahwa sistem dua badan (civil + military) bisa membingungkan. Indonesia perlu koordinasi lebih baik antara Kemenhub dan TNI.
- Digital Authorization: SISANT adalah contoh bagus sistem online untuk airspace clearance. Indonesia bisa adopt ini.
- Agriculture Focus: Brazil fokus ke drone untuk agriculture. Indonesia (negara agraris) perlu hal serupa.
Kesimpulan
Brazil punya regulasi yang balanced: liberal untuk hobi, structured untuk komersial. Tapi kompleksitas SISANT bisa jadi barrier. Indonesia bisa belajar dari Brazil untuk simplify authorization process sambil maintain safety.



