Drone Tanpa Merek Tetap Wajib Plat Nomor
Komunitas drone FPV (First Person View) dan aeromodelling berkembang pesat. Banyak pilot yang merakit wahana mereka sendiri dari komponen terpisah (Flight Controller, ESC, Motor, Frame). Masalah muncul saat hendak registrasi di SIDOPI GO: "Merk apa yang harus saya pilih? Serial Numbernya yang mana?"
Tenang, regulasi Indonesia mengakomodasi drone rakitan (Homebuilt). Berikut caranya.
1. Menentukan Serial Number
Berbeda dengan drone pabrikan (DJI/Autel) yang punya SN di body, drone rakitan tidak punya.
Solusi:
- Gunakan ID Unik Flight Controller (FC). Sambungkan FC ke komputer (Bataflight/Mission Planner), copy UUID-nya.
- Atau, buat plat nomor sendiri (engraving) di frame karbon, lalu foto itu sebagai bukti SN.
2. Mengisi Form Manufaktur
Di kolom manufaktur, pilih opsi "Custom" / "Homebuilt" / "Lainnya".
Di kolom Model, beri nama unik, misal: "Project X-5" atau "Long Range 7 Inch". Konsistensi nama ini penting.
3. Spesifikasi Teknis
Anda wajib tahu data teknis alat Anda:
- MTOW (Max Take-off Weight): Timbang drone lengkap dengan baterai dan kamera (GoPro dll). Jangan menipu berat, karena ini menentukan kategori risiko.
- Jenis Kendali: Sebutkan frekuensi remote (ELRS 2.4Ghz / Crossfire 900Mhz). Ingat, frekuensi 900Mhz di beberapa area mungkin beririsan dengan seluler, pastikan legalitas frekuensi telekomunikasi (Postel) jika memungkinkan, meski untuk hobi masih grey area.
4. Foto Dokumentasi
Unggah foto drone dari berbagai sisi (Top, Side, Front). Pastikan terlihat rapi (kabel tidak semrawut) untuk meyakinkan verifikator bahwa drone ini laik terbang (Airworthy) secara visual.
5. Kapan FPV Wajib Sertifikasi?
Jika Anda terbang FPV untuk balapan (racing) di sirkuit tertutup, itu hobi. Tapi jika Anda terbang FPV untuk Cinewhoop (Shooting indoor company profile/wedding), itu KOMERSIAL. Anda wajib punya sertifikat remote pilot dan drone terdaftar. Skill terbang FPV (Acro mode) jauh lebih sulit dari drone GPS, sehingga kompetensi pilot sangat krusial.
Kesimpulan
Jangan jadikan alasan "ini rakitan" untuk menghindari regulasi. Justru drone rakitan seringkali memiliki potensi bahaya lebih besar (gagal solder, bug software) dibanding pabrikan, sehingga tanggung jawab moral dan hukumnya sama beratnya.


